Ayam Maron, Solusi Bibit Ayam Kampung Unggul untuk Petelur dan Pedaging

Ayam Maron (Sumber foto: Sinar Tani)

Selama ini, banyak peternak ayam kampung di Indonesia yang masih menjalankan usahanya secara sambilan. Ayam yang dipelihara cenderung bertipe dwiguna, yaitu dapat diambil telur maupun dagingnya. Namun, tantangan yang dihadapi para peternak salah satunya adalah sulitnya memperoleh bibit ayam kampung unggul dalam jumlah cukup. Inilah yang mendorong Balai Budidaya dan Pembibitan Ternak Terpadu (BBPT), lembaga di bawah Dinas Peternakan, untuk mengembangkan ayam kampung hasil seleksi dan persilangan yang diberi nama Ayam Maron.

Peternak sering mengalami kendala dalam mendapatkan bibit ayam kampung asli yang produktif dan adaptif. Produksi bibit yang terbatas membuat peluang budidaya ayam kampung unggul tetap terbuka lebar. Oleh karena itu, BBPT berinisiatif untuk menghadirkan ayam kampung unggul hasil pengembangan yang diproduksi secara berkelanjutan. Lembaga ini didukung pendanaan negara, sehingga proses pembibitan bisa terus berlangsung dalam jangka panjang.

Untuk mengembangkan usaha peternakan yang lebih terarah, BBPT membedakan Ayam Maron menjadi dua tipe, yakni Maron 1 untuk tipe petelur dan Maron 2 untuk tipe pedaging. Ini menjadi langkah penting untuk mendorong para peternak agar tidak lagi sekadar menjalankan usaha sambilan, tetapi lebih fokus pada tujuan produksi—baik produksi telur konsumsi maupun penyediaan daging ayam kampung.

Ayam Maron 1 untuk Produksi Telur

Ayam Maron 1 dikembangkan dari hasil persilangan antara ayam Arab dan ayam Lingnan. Ayam Arab dipilih karena dikenal memiliki kemampuan bertelur tinggi dan daya tahan tubuh yang baik. Namun, ayam Arab cenderung agresif dan ukuran telurnya kecil dengan warna putih, yang sering tidak sesuai dengan preferensi konsumen. Oleh karena itu, disilangkanlah dengan ayam Lingnan yang lebih tenang dan memiliki karakteristik telur yang menyerupai ayam kampung asli.

Karakteristik ayam maron 1 untuk produksi telur sebagai berikut.

  1. Produksi telur rata-rata lebih dari 220 butir per tahun.
  2. Telur berwarna krem muda, lebih disukai konsumen daripada telur putih.
  3. Rasio mengeram sangat rendah, hanya sekitar 5%.
  4. Asupan pakan harian sekitar 100 gram per ekor, sebanding dengan ayam kampung umumnya.
  5. Postur tubuh besar, pulet siap bertelur idealnya memiliki bobot minimal 1,5 kg.
  6. Ayam bersifat adaptif terhadap perubahan pakan dan tahan terhadap stres lingkungan.

Ayam Maron 2 untuk Kebutuhan Daging

Ayam Maron 2 merupakan hasil pengembangan lanjutan dari ayam Maron 1 yang dikawinkan dengan ayam Kedu. Ayam Kedu dikenal memiliki kualitas daging yang baik, dengan serat halus dan warna daging coklat krem. Proses pengembangan Maron 2 dimulai dari pemurnian genetik Kedu, kemudian disilangkan dengan Maron 1 sebagai induk betina untuk menghasilkan ayam pedaging unggul.

Berikut ciri khas ayam maron 2 untuk produksi daging.

  1. Perilaku tenang dan tidak kanibal selama pemeliharaan sesuai standar (padat kandang, suhu, dan pakan terkendali).
  2. Memiliki nafsu makan tinggi, cocok untuk pembesaran cepat.
  3. Panen bisa dilakukan pada usia 70 hari untuk bobot 8 ons–1 kg (betina), dan 80 hari untuk bobot 1–1,2 kg (jantan).
  4. Daging ayam Maron 2 memiliki warna dan tekstur sesuai selera pasar.

Peluang dan Tips Bagi Peternak Pemula

Bagi peternak pemula, penting untuk menentukan tujuan budidaya sejak awal—apakah ingin fokus pada produksi telur konsumsi dengan Maron 1 atau produksi daging ayam kampung dengan Maron 2. Keduanya telah dikembangkan dengan karakter genetik yang berbeda dan ditujukan untuk kebutuhan pasar yang spesifik.

Pemeliharaan ayam Maron, baik tipe 1 maupun 2, memerlukan pengelolaan pakan yang sesuai dengan kebutuhan harian ayam dan kepadatan kandang yang tidak berlebihan. Suhu dan ventilasi kandang juga perlu dikontrol agar ayam tidak mengalami stres, sehingga performa produksi tetap stabil.

Komentar